oleh

Seba Baduy 2026, Pemprov Banten Tegaskan Masyarakat Adat Bukan Objek Tontonan

Banten — kemajuanrakyat.id-Pelaksanaan Seba Baduy 2026 di Provinsi Banten menghadirkan pendekatan berbeda. Pemerintah Provinsi Banten menegaskan bahwa masyarakat Baduy ditempatkan sebagai subjek utama, bukan sekadar objek tontonan dalam agenda budaya tahunan.

Kepala Bidang Kebudayaan Dindikbud Banten, Rohaendi, S.Pd, M.Par, menyampaikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan disusun berdasarkan aspirasi langsung masyarakat Baduy.

“Kami mengikuti apa yang mereka inginkan, baik dari sisi ritual maupun kebutuhan lainnya. Kita ingin memastikan mereka dimuliakan dalam pelaksanaan Seba Baduy ini,” ujar Rohaendi kepada wartawan, Jumat (24/4/2026), di alun-alun Barat Kota Serang.

Ia menjelaskan, panitia juga melibatkan relawan kebudayaan yang disebut “walad kebudayaan”. Relawan ini berasal dari kalangan generasi muda, PGRI, serta mahasiswa jurusan sejarah yang bertugas membantu pelayanan kepada masyarakat Baduy selama kegiatan berlangsung.

Dalam hal hiburan, panitia tidak menetapkan secara sepihak, melainkan menyesuaikan dengan permintaan masyarakat Baduy, mulai dari pertunjukan barongsai, wayang, hingga pemutaran film.

“Ini bentuk penghormatan pemerintah. Bahkan ada ritual yang tidak boleh diliput, itu kita patuhi. Area tertentu yang tidak boleh diinjak juga diberi pembatas,” katanya.

Untuk mendukung perekonomian masyarakat Baduy, panitia menyediakan lima tenda yang didesain menyerupai leuit. Fasilitas ini digunakan untuk menampung serta membantu penjualan produk UMKM Baduy, mengingat mereka tidak diperkenankan berjualan secara langsung.

Selain itu, Rohaendi menambahkan bahwa masyarakat Baduy luar yang melaksanakan Seba Baduy dari Kabupaten Lebak menuju Kota Serang difasilitasi menggunakan transportasi dari Perum DAMRI, sedangkan warga baduy dalam tetap berjalan kaki. Dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari Bank Indonesia dan Perum DAMRI yang turut mensupport kelancaran rangkaian acara.

Rohaendi menegaskan, seluruh prosesi adat tetap dijaga keasliannya tanpa intervensi. Beberapa ritual, termasuk prosesi mandi, dilakukan secara tertutup di belakang Gedung Negara dan tidak diekspos kepada publik.

“Ritual tidak boleh diubah dan tidak semuanya bisa dipublikasikan. Kami hanya memfasilitasi sesuai aturan adat,” tegasnya.

Ia menambahkan, koordinasi juga dilakukan antara perwakilan adat Baduy dan pemerintah daerah, termasuk dengan Gubernur Banten, guna memastikan seluruh rangkaian berjalan sesuai kesepakatan.

Seba Baduy tahun ini berlangsung selama tiga hari. Pada hari pertama, kegiatan diawali dengan pameran dan diskusi budaya yang dibuka oleh Wakil Gubernur Banten, Dimyati Natakusumah. Sementara itu, kedatangan masyarakat Baduy dijadwalkan pada hari berikutnya.

(Yuyi Rohmatunisa)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed