Kota Serang — Kemajuanrakyat.id-Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Serang, Kusna Ramdhani, S.Sos., M.Si., menegaskan pihaknya terus melakukan penanganan terhadap penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), khususnya gelandangan dan pengemis (gepeng) yang kerap beraktivitas di jalanan.
“Kota Serang sebagai ibu kota Provinsi Banten menjadi pusat aktivitas, sehingga banyak gepeng yang datang, tidak hanya dari dalam kota tetapi juga dari luar daerah seperti Cikande, Kramatwatu, hingga Pandeglang,” ujar Kusna kepada wartawan, Selasa (21/4/2026).
Ia menjelaskan, bagi gepeng yang berasal dari luar daerah, pihaknya akan mengembalikan ke daerah asal. Namun, jika yang bersangkutan kembali terjaring, Dinsos akan mengambil langkah pembinaan lebih lanjut.
“Kalau sudah dua kali datang lagi, terpaksa akan kami bina lebih lanjut, termasuk kemungkinan dibawa ke Jakarta,” katanya.
Selain penertiban, Dinsos juga rutin menggelar program pembinaan dan pelatihan keterampilan bagi anak jalanan dan gepeng, seperti pelatihan barista dan pembuatan kopi. Program ini diharapkan dapat membantu mereka memiliki keahlian dan sumber penghasilan alternatif.
Namun demikian, Kusna mengakui tantangan terbesar terletak pada pola pikir atau mindset para gepeng yang sudah terbiasa mencari penghasilan di jalan.
“Seberapa kuat pun pelatihan dan bantuan yang diberikan, kalau dalam dirinya masih tertanam kebiasaan itu, akan sulit diubah,” ungkapnya.
Untuk itu, Dinsos juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya pengguna jalan, agar tidak memberikan uang atau barang secara langsung kepada gepeng di jalan. Sosialisasi ini rutin dilakukan setiap hari Jumat, yang kerap dimanfaatkan sebagian orang untuk meminta-minta dengan memanfaatkan momen “Jumat berkah”.
“Kita turun langsung ke jalan, menyapa pengguna jalan dan membagikan selebaran agar bantuan disalurkan melalui lembaga resmi seperti Baznas, masjid, atau musala,” jelasnya.
Ia menambahkan, penyaluran bantuan melalui jalur resmi tidak akan mengurangi nilai pahala sedekah, justru dinilai lebih tepat sasaran dan mendidik.
“Kalau diberikan di jalan memang ada pahala, tapi efeknya tidak mendidik. Bahkan penghasilan mereka di jalan bisa mencapai minimal Rp.50 ribu per hari itu paling kecil,” katanya.
Kusna juga menyoroti dampak sosial dari aktivitas mengemis di jalan, seperti mengganggu lalu lintas hingga melibatkan anak-anak yang seharusnya bersekolah.
“Pengangguran memang banyak, tapi tidak semuanya memilih mengemis. Yang turun ke jalan ini yang perlu kita bina karena berdampak juga pada ketertiban umum,” tandasnya.
Melalui pendataan dan pembinaan berkelanjutan, Dinsos optimistis upaya penanganan PMKS dapat memberikan hasil jangka panjang.
“Intinya, kita tidak boleh lelah dan tidak boleh kapok. Ini adalah tugas pokok dan fungsi kami, dan akan terus kita laksanakan, termasuk kegiatan rutin setiap hari Jumat,” pungkasnya.
(Yuyi Rohmatunisa)












Komentar