Kota Serang — kemajuanrakyat.id-Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi BEM Banten Bersatu menggelar aksi dengan menyalakan lilin, obor, dan menabur bunga sebagai bentuk keprihatinan terhadap kondisi bangsa saat ini.
Aksi yang digelar
di depan markas Polda Banten Sabtu malam, (30/8/2025) Jam 16.00-19.00 WIB, mengangkat tajuk “Ibu Pertiwi Sedang Tidak Baik-Baik Saja.”
Dalam aksinya, massa mahasiswa membawa poster, spanduk, dan orasi yang menyuarakan keresahan mereka terhadap apa yang mereka sebut sebagai krisis demokrasi, krisis kepemimpinan, serta menguatnya praktik oligarki dalam pemerintahan.
Koordinator Pusat BEM Banten Bersatu, Bagas Yulianto, menegaskan bahwa aksi ini merupakan respon moral atas kondisi bangsa yang menurut mereka sedang mengalami kemunduran demokrasi. Ia menyebut, hukum saat ini hanya tajam ke bawah, sementara lembaga legislatif dinilai telah kehilangan fungsinya sebagai perwakilan rakyat.
“Hari ini kami berdiri bukan karena kebetulan, melainkan karena keharusan. Ibu Pertiwi sedang tidak baik-baik saja. Negara ini sedang sakit, dan sakit itu semakin parah ketika suara rakyat dibungkam dengan represifitas aparat dan kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat,” ujar Bagas.
Mahasiswa juga menyerukan empat tuntutan utama, yakni:
1.Reformasi Polri Secara Menyeluruh
Mereka menilai institusi Polri telah menyimpang dari fungsi idealnya sebagai pelindung rakyat. BEM Banten Bersatu menuntut evaluasi total terhadap struktur dan kultur kepolisian serta penghentian segala bentuk intimidasi terhadap rakyat.
2.Penghentian Represifitas Aparat
Gerakan mahasiswa menyoroti tindakan represif aparat terhadap demonstrasi yang dinilai telah mencederai nilai-nilai demokrasi.
3.Pembubaran DPR RI
Lembaga legislatif disebut telah kehilangan legitimasi moral akibat dominasi oligarki dan lahirnya produk legislasi yang dianggap tidak berpihak pada kepentingan publik.
4.Seruan Moral untuk Persatuan Gerakan Rakyat
BEM Banten Bersatu menyerukan agar mahasiswa di seluruh Indonesia bersatu menyuarakan penolakan terhadap ketidakadilan dan kebijakan anti-rakyat.
Aksi ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap dan kutipan dari Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, yang menggugah kesadaran kolektif tentang pentingnya perjuangan melawan ketidakadilan dari dalam negeri sendiri.
“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri,” kutip Bagas, mengakhiri pernyataan sikapnya.
BEM Banten Bersatu menyatakan akan terus berada di garis depan perjuangan rakyat dan mengajak mahasiswa di seluruh Indonesia untuk tidak tinggal diam. “Diam adalah bentuk pengkhianatan terhadap penderitaan rakyat,” tegas mereka.
( Yuyi Rohmatunisa)
Komentar