Pandeglang– kemajuanrakyat.id-Pujiyanto dari Pandeglang yang pernah mencalonkan diri sebagai Bupati namun gagal, kembali menyita perhatian publik. Di tengah gelombang aksi mahasiswa yang mengguncang Senayan dalam beberapa hari terakhir, ia angkat bicara lantang melalui sebuah pernyataan yang menggugah dan sarat pesan moral.
Meski ambisinya untuk memimpin Pandeglang belum tercapai, Pujiyanto tetap aktif menyuarakan aspirasi rakyat. Ia mengungkapkan keprihatinan mendalam atas tragedi tewasnya Affan Kurniawan seorang pengemudi ojek online yang diduga terlindas mobil aparat saat terjadi kericuhan aksi demonstrasi.
“Affan bukan aktivis, bukan tokoh. Ia hanya anak muda sederhana yang bekerja untuk keluarganya. Tapi ia pulang dalam keadaan terbujur kaku,” katanya Jum’at, (29/8/2025).
Ia menekankan bahwa peristiwa ini tidak boleh dianggap sekadar kecelakaan lalu lintas biasa, melainkan cerminan bahwa negara belum sepenuhnya mampu melindungi rakyat kecil.
Menurutnya, parlemen harus menjadi sasaran utama kritik rakyat. “DPR RI adalah rumah rakyat. Kalau rakyat marah, di sanalah mereka harus mengetuk pintu,” katanya.
Pujiyanto juga mengingatkan agar gerakan mahasiswa tetap murni, tidak disusupi oleh kepentingan elit politik. Ia menegaskan bahwa sejarah Indonesia telah mencatat banyak gerakan mahasiswa yang dibajak oleh mereka yang haus kekuasaan.
“Gerakan sejati bukan soal siapa yang paling keras berteriak, tapi siapa yang paling tulus menjaga bangsa agar tetap berdiri,” ujarnya. Ia bahkan memperingatkan agar tragedi seperti yang dialami Affan tidak dijadikan alat politisasi atau pemecah belah rakyat.
Pujiyanto sendiri, meski gagal dalam kontestasi Pilkada Pandeglang beberapa waktu lalu, masih aktif terlibat dalam berbagai kegiatan sosial politik di Banten. Ia dikenal sebagai sosok yang vokal dan berani menyampaikan kritik kepada lembaga legislatif dan aparat penegak hukum.
Ia menyerukan agar mahasiswa dan rakyat tetap bersatu, tidak terprovokasi, dan terus mengawal parlemen sebagai sumber kebijakan.
“Kalau hari ini kita bersatu, seratus tahun ke depan, anak cucu kita akan menulis ada masa ketika bangsa ini hampir terpecah, tapi rakyatnya memilih untuk bersatu,” pungkasnya.
( Yuyi Rohmatunisa)
Komentar